STMIK DCI Ditunjuk Jadi Pusat Inkubasi Robotika Jawa Barat, Perkuat Langkah Kota Santri di Era Teknologi
- Direktorat Jenderal Pondok Pesantren Kementerian Agama (Kemenag) RI
- 2026-10-28
Kota Tasikmalaya yang lekat dengan julukan Kota Santri mulai memperluas langkah ke dunia teknologi.
STMIK DCI dipercaya menjadi pusat inkubasi robotika untuk wilayah Jawa Barat setelah menjalin kerja sama dengan Persatuan Robotika Seluruh Indonesia (PRSI) dalam program Robotika untuk Negeri yang diluncurkan Direktorat Jenderal Pondok Pesantren Kementerian Agama (Kemenag) RI, Senin (26/10/2026).
Ketua STMIK DCI, Andri Sukmaindrayana mengungkap, dalam program tersebut, STMIK DCI menjadi satu-satunya perguruan tinggi yang diundang sekaligus menandatangani nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) dengan PRSI
“Kolaborasi ini menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem robotika nasional melalui sinergi pemerintah, perguruan tinggi, dunia industri, dan lembaga pendidikan” ucapnya.
Penandatanganan kerja sama juga melibatkan PT Handal Yesindo Sejahtera, sebuah perusahaan nasional yang bergerak di bidang robotik dan PT Agri Global Sinergi perusahaan yang bergerak di bidang ekspor komoditas pertanian, sebagai representasi dunia industri.
PRSI sendiri menjadi mitra strategis Kemenag RI, khususnya dalam pengembangan robotika di lingkungan pendidikan pesantren.
Ketua Badan Penjaminan Mutu Internal (BPMI) STMIK DCI, Danial Kusumah, mengatakan kepercayaan tersebut menjadi pengakuan terhadap kiprah kampus dalam pengembangan pendidikan teknologi dan digitalisasi.
“STMIK DCI diberikan kepercayaan menjadi pusat inkubasi robotik untuk wilayah Jawa Barat. Ini menunjukkan bahwa STMIK DCI diperhitungkan di tingkat nasional,” ujarnya.
Menurut dia, peran perguruan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan lulusan yang unggul dan berdaya saing.
Kampus juga perlu menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat melalui pelaksanaan tridarma perguruan tinggi, termasuk pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Kepercayaan tersebut sekaligus membuka peluang bagi Tasikmalaya untuk memperluas akses pendidikan teknologi.
Jika selama ini robotika kerap dianggap sebagai bidang eksklusif yang hanya bisa dijangkau sekolah atau lembaga tertentu, program ini diharapkan dapat mendekatkannya kepada peserta didik dari berbagai jenjang pendidikan.
STMIK DCI menyiapkan sejumlah program prioritas untuk menindaklanjuti kerja sama tersebut.
Langkah awal dilakukan melalui sosialisasi kepada satuan pendidikan di bawah naungan Kemenag dan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).
Program berikutnya mencakup pembentukan ekstrakurikuler robotika di seluruh satuan pendidikan, penyusunan kurikulum dan bahan ajar robotika, serta inisiasi pendirian Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) bidang robotika.
STMIK DCI juga akan membangun sinergi dengan pemerintah daerah, industri, komunitas robotika, perguruan tinggi, dan media untuk memperkuat ekosistem teknologi tersebut.
Langkah ini menjadi penting agar pengenalan robotika tidak berhenti pada kegiatan seremonial atau sekadar merakit perangkat saat perlombaan.
Peserta didik diharapkan memperoleh ruang belajar yang berkelanjutan, mulai dari pengenalan teknologi, pengembangan keterampilan, hingga peluang memperoleh sertifikasi kompetensi.
Dengan demikian, pendidikan robotika diharapkan tidak hanya menjadi tambahan kegiatan ekstrakurikuler, tetapi juga bekal keterampilan yang relevan dengan kebutuhan industri dan perkembangan teknologi.
Wakil Ketua PRSI Bidang Sertifikasi, Ifan Zulfikri, mengatakan kolaborasi dengan STMIK DCI merupakan bentuk pengakuan terhadap rekam jejak kampus tersebut dalam bidang komputer dan digitalisasi.
Menurut dia, STMIK DCI memiliki sejarah panjang sebagai salah satu kampus tertua di Kota Tasikmalaya yang berkiprah dalam pengembangan pendidikan teknologi.
“Kami berharap kolaborasi ini menjadi kebanggaan Kota Tasikmalaya yang juga memiliki sejarah sebagai Kota Santri,” tutur Ifan.
Kolaborasi tersebut membuka peluang bagi Tasikmalaya untuk mempertemukan tradisi pendidikan pesantren dengan perkembangan teknologi modern.
Tantangannya kini adalah memastikan program robotika dapat menjangkau lebih banyak sekolah dan pesantren, sekaligus menyediakan tenaga pendamping, sarana praktik, serta kurikulum yang sesuai.
Sebab, di tengah pesatnya perkembangan teknologi, predikat Kota Santri akan semakin bermakna jika berjalan beriringan dengan penguatan kompetensi digital generasi muda.
Bukan hanya dikenal karena tradisi pendidikannya, Tasikmalaya juga berpeluang mengambil bagian dalam menyiapkan sumber daya manusia yang mampu bersaing di era robotika dan kecerdasan buatan.